Monday, April 25, 2022

Koneksi antar materi modul 3.1 : Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

·       Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Melihat konten / isi / materi dalam suatu wadah perlu dilakukan namun juga dibutuhkan kejelian kita melihat esensi / makna penting untuk apa wadah berisi konten / materi tersebut diperuntukkan ? Dalam pembelajaran modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita diajak untuk berempati menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang tidak hanya bisa dan mampu membuat suatu keputusan namun juga jeli merasakan kemujaraban keputusan untuk perubahan yang lebih baik yakni hakikat suatu keputusan untuk memuliakan murid, melayani murid, serta keberpihakan keputusan bagi murid untuk kebertahanan hidupnya kelak di masa depan. 

·       Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

cinta Tuhan dan segenap ciptaan – Nya, mandiri, jujur, hormat dan santun, suka menolong, percaya diri, pantang menyerah adalah beberapa nilai yang berguna untuk mengendalikan diri saat bertindak dalam lingkungan sehingga orang lain percaya kepada kita.. 

·       Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Fokus pada setiap situasi yang kita hadapi, maka makin mudah bagi kita untuk melakukan resiliensi terhadap berbagai hambatan dalam menciptakan suatu keputusan yang berdampak baik bagi murid.

 

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Ing Ngarso sung tuladha : di depan memberi teladan

Ing Madya mangun karsa : di tengah memberi kemauan

Tut Wuri Handayani : di belakang memberi dorongan

ketiga pikiran Ki Hajar Dewantara ini menuntun kita menciptakan suatu keputusan yang berpihak kepada kemajuan belajar murid.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

cinta Tuhan dan segenap ciptaan – Nya, mandiri, jujur, hormat dan santun, suka menolong, percaya diri, pantang menyerah adalah beberapa nilai kebajikan yang berguna untuk mengendalikan diri saat bertindak dalam lingkungan sehingga orang lain percaya kepada kita. Intuisi sebagai hasil kombinasi nilai – nilai kebajikan pada diri kita akan menjadi kemudi kita merasakan alur masalah atau situasi yang kita hadapi menjadi suatu lingkungan belajar yang menyambut ramah sang murid.

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Beberapa hal yang kita rencanakan serta kita komitmenkan secara bertanggung jawab untuk kita putuskan lakukan sesaat setelah coaching siklus pertama, biasanya masih belum nampak keefektifannya secara langsung kecuali dalam beberapa jeda tertentu sudah kita amati perubahan berarti / signifikan antara sebelum dan setelah pengambilan keputusan saat coaching siklus pertama. Untuk merefleksikan efek putusan atas tindakan tertentu, dibutuhkan coaching siklus kedua atau siklus seterusnya sedemikian hingga berhasil diperoleh perubahan yang dituju sesuai tahapan T ( tujuan ) dalam TIRTA coaching siklus pertama ( awal ). Begitu juga dengan pertanyaan yang muncul pada diri atas keputusan tindakan yang kita buat setelah coaching akan muncul beriringan dengan keefektifan keputusan sedemikian hingga pertanyaan – pertanyaan terkait efek putusan akan senantiasa menuntun kita menyingkronkan segala renca aksi untuk tidak berbelok dari tujuan pada coaching siklus pertama / awal mula. 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Pengelolaan emosi dan fokus akan memudahkan guru berempati pada situasi dilema etika yang dihadapi sehingga keputusan yang dihasilkan secara sadar / mindfull dapat berdampak kepada murid. Kestabilan emosi saat menjadi seseorang yang mengalami dilema etika pada suatu masalah, membuat guru memiliki daya lenting untuk bangun dan secara sadar menelaah masalah untuk memperoleh solusi yang dapat diterima oleh berbagai pihak. 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

moral membuat kita mampu memilah mana yang baik dan buruk. Etika menjadi suatu sistem yang selalu hidup karena dipegang teguh oleh suatu masyarakat. Saat guru menghadapi situasi yang secara moral dan etika diterima oleh suatu masyarakat tertentu namun bertolak belakang oleh peraturan sekolah, maka solusinya adalah kita kembalikan pada pertimbangan sisi kemanusiaan pendidik membawa murid demi murid dapat berekspresi, bertumbuh, dan berkembang untuk mempersiapkan hidupnya kelak di masyarakat ( secara luas atau lingkungan yang membesarkannya ). Intinya adalah : paradigma suatu sekolah akan menjunjung nilai – nilai kebajikan yang secara universal diakui oleh seseorang tanpa membeda – bedakan suku, agama, ras, dan budaya masyarakat tercermin dari nilai – nilai yang tersirat dalam keyakinan sekolah / kesepakatan kelas.  

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang dibuat oleh pemimpin pembelajaran cenderung fokus pada menciptakan pengalaman utuh berkaitan dengan proses pengajaran yang menjadi bagian dari pendidikan untuk menghasilkan murid yang adaptif dan memiliki nilai – nilai karakter luhur ( Profil Pelajar Pancasila ). Murid dibentuk utuh oleh enam dimensi pembentuk karakter yaitu :  

1.       Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia

2.       Mandiri

3.       Bergotong royong

4.       Bekebhinekaan global

5.       Bernalar kritis

6.       Kreatif 

 

Untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, rekayasa lingkungan belajar dirancang untuk mengolah cipta, rasa, karsa, dan raga. Lingkungan belajar yang mengolah cipta akan membantu guru untuk pembelajaran berpusat pada kebutuhan. Ruang kelas akan membantu murid memenuhi kebutuhannya. Dalam kelas murid akan belajar untuk memahami tujuan dan manfaat mengapa mereka belajar suatu ilmu tertentu di dalam kelas. Murid akan menggunakan ilmunya untuk mengantarkan mereka menjadi manusia yang berguna dalam masyarakat.  Lingkungan belajar yang mengolah rasa akan membantu guru untuk mengetahui kinerja murid dengan menerapkan suatu konsep sederhana. Murid akan merasa dirinya kompeten dan bernilai dengan hasil kinerja mereka. Lingkungan belajar yang mengolah karsa akan membantu guru menghubungkan ilmu yang dipelajari dengan problematika kehidupan sehari – hari. Murid akan bisa menyambungkan sekolah dengan kehidupan masyarakat. Lingkungan belajar yang mengolah raga akan memayungi guru dalam melakukan penilaian yang berorientasi pada proses dan penguasaan kompetensi. Murid – murid yang berbeda – beda dapat mencurahkan idenya untuk karya yang mereka mampu bisa hasilkan dengan menggunakan konsep dasar yang diajarkan oleh guru di kelas.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan yang saya hadapi : menyamakan persepsi / sudut pandang. Di lingkungan kita, sebagian besar kelompok masih mengakui ilusi kontrol :

1.        Ilusi guru mengontrol murid

2.      Ilusi bahwa kritik dan membuat orang bersalah dapat menguatkan karakter

3.      Ilusi bahwa semua penguatan positif, efektif dan bermanfaat

4.      Ilusi bahwa orang dewasa berhak untuk memaksa

Betul sekali bahwa ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan. Ketika kita berhasil menemukan benang merah dalam situasi / masalah tertentu, maka usaha kita dalam membuat keputusan masih harus diuji oleh kusutnya benang sehingga kita sulit mengubah pola / bentuk / paradigma awal mula budaya sekolah terbentuk.  

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Akhirnya, kita ambil keputusan bahwa pengajaran untuk memerdekakan murid hanya kita wacanakan ke sekolah. Sementara waktu sambil mempersiapkan regulasi atau peraturan yang menaungi hal tersebut terealisasi, kita komunikasikan hal – hal berkaitan memerdekakan murid secara personal dengan teman / rekan sejawat sebagai kolaborator melaksanakan pendidikan merdeka, dan mengkomunikasikan kepada pimpinan tentang informasi – informasi penting terkait pendidikan merdeka secara sopan. Terpenting adalah kita mulai dari diri sehingga akan kita peroleh hasil – hasil pengalaman belajar yang meyakinkan sekolah untuk bisa mengikuti apa yang telah kita lakukan terkait memerdekakan murid.    

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pertama, kita kenalkan faktor pendorong atau latar belakang munculnya suatu keputusan berdasar / berpijak pada nilai – nilai kebajikan.

Kedua, kita dampingi murid melaksanakan pembelajaran yang memuat nilai – nilai kebajikan, misalnya dengan memberi murid waktu / kesempatan berbagi pengetahuan, memberi waktu kepada murid untuk mengenali emosinya, memberi waktu murid untuk bercerita, serta melatih murid untuk menghargai ciptaan – Nya melalui Latihan bersyukur memaknai pentingnya kehidupan / napas yang kita peroleh setiap detik.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan : pengambilan keputusan terkait dengan kemampuan kita mengenali emosi kita, mengelola emosi dan fokus pada tindakan kita menjadi komunikator yang asertif dan mampu mendengarkan dengan baik, berempati dalam situasi dilema etika, memiliki resiliensi terhadap rantai masalah dalam lingkungan kita, untuk mengambil keputusan yang bertanggungjawab secara sadar / mindfull guna menciptakan rasa aman dan adil bagi murid pada pembelajaran berdiferensiasi sebagai wujud pembelajaran yang secara utuh membentuk profil pelajar Pancasila.

Saturday, April 9, 2022

Suara Murid Berkesepakatan Kelas

Dalam modul 1.4 pendidikan guru penggerak angkatan 4, guru menyelami budaya positif di sekolah masing - masing. Budaya positif merupakan bentuk iklim baru sekolah menuju pembiasaan perilaku disiplin positif. Disiplin positif adalah pola sikap yang muncul secara intrinsik dari dalam individu. Disiplin positif muncul dari pengaruh yang kuat dan pengaruh yang muncul dari dalam individu tanpa adanya imbalan, tanpa adanya paksaan, tetapi karena semata - mata menuju pencapaian nilai - nilai kebajikan. 

Salah satu yang diterangkan dalam modul 1.4, yaitu membentuk kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas berbeda dengan peraturan kelas. Dalam kesepakatan kelas terdapat suatu nilai keyakinan yang berupa nilai - nilai kebajikan. Setelah saya mempelajari modul 1.4, saya mengetahui bahwa peraturan kelas berbeda dengan kesepakatan kelas. Dalam modul ini saya menarik perbedaan di antara keduanya. Peraturan kelas bersifat memunculkan perubahan pada murid karena pengaruh eksternal. Misalnya, ada suatu peraturan kelas yang menyatakan bahwa murid dilarang terlambat. Pernyataan murid dilarang terlambat membuat murid terpaku dan teringat pada kata terlambat. Peraturan kelas seolah belum menerangkan makna tersirat mengapa murid dilarang terlambat dan untuk apa murid datang tidak terlambat di sekolah. Pada peraturan kelas " murid dilarang terlambat ", belum menerangkan secara utuh kepada murid tentang makna sesungguhnya tujuan murid tidak terlambat. Peraturan kelas tergolong berisi pesan memaksa. Pesan dalam peraturan kelas bersifat sempit hanya untuk satu poin sikap. Menurut saya, suatu hal yang bersifat memaksa, masa kebertahanan sikap yang dibentuk belum bertahan lama. Pada kesepakatan kelas, setiap pesan di dalamnya memiliki makna berbagai poin sikap. Misal ada satu pesan dalam kesepakatan kelas berbunyi "kami adalah murid yang menghormati orang lain". Dalam satu pesan tersebut tersirat berbagai makna. Beberapa pesannya misal : murid selalu berusaha tepat waktu masuk ke kelas agar saat pelajaran dimulai, murid menciptakan suasana yang tertib; murid bertutur kata sopan kepada teman, guru, dan seluruh warga sekolah sebagai bentuk konkrit menghormati orang lain; atau murid memberikan kesempatan kepada teman untuk menyampaikan ide sebagai bentuk penghormatan murid saat diskusi. Nah, dari satu pesan saja dalam kesepakatan kelas akan menciptakan berbagai poin sikap yang dapat dimunculkan secara positif kepada murid. Satu pesan dalam kesepakatan kelas akan menjadi pedoman bagi murid untuk bersikap sesuai yang tertulis. Kesepakatan kelas mengandung tujuan untuk menanamkan nilai keyakinan kelas yang sarat nilai - nilai kebajikan. Nilai kebajikan ini bersifat memunculkan kenampakan sikap positif dari dalam individu secara internal. Kemauan diri yang kuat untuk bersikap positif karena dorongan dan keyakinan dari dalam individu dilatih secara rutin melalui kesepakatan kelas. 

Kesepakatan kelas dibentuk berdasarkan musyawarah atau diskusi antara murid dan guru. Cara membuat kesepakatan kelas : 
1. ajak murid menyampaikan beberapa sikap yang sebaiknya dilakukan dalam kelas.
2. Apabila pernyataan murid mengandung kata tidak boleh atau dilarang, guru mengubahnya menjadi kalimat positif 
3. Beberapa pernyataan disarikan ke sebuah pesan yang akan ditulis dalam kesepakatan kelas
4. Buat kesepakatan kelas yang memuat 3 - 5 pesan, agar murid mudah mengingatnya
5. Tulis kesepakatan kelas dalam bentuk poster yang menarik, kemudian pajang di kelas

Melalui diskusi di kelas, saya bersama murid telah berhasil mengidentifikasi beberapa sikap yang diijinkan untuk dilakukan murid saat di kelas. Murid saya menyampaikan 12 sikap yang sebaiknya dilakukan oleh murid di kelas, yaitu :
1. Murid tidak boleh ramai
2. Piketlah sesuai dengan jadwal
3. Murid tidak boleh main game / HP saat guru menerangkan
4. Menata baju olahraga setelah jam pelajaran olahraga
5. Dilarang main HP
6. Tidak membuang plastik bungkus jajan di loker meja
7. Setiap jam pelajaran olahraga usai, murid diberi kesempatan istirahat
8. Membersihkan lantai musholla 
9. Tidak ramai di bengkel / laboratorium
10. Dilarang merokok
11. Dilarang terlambat
12. Tidak boleh bersikap kurang sopan kepada guru

Setelah tersampaikan oleh murid tentang 12 sikap, saya menyusun pesan positif. Pesan positif biasanya berupa kalimat yang tidak mengandung kata dilarang, jangan, atau tidak boleh. Dengan demikian keduabelas sikap akan menjadi :
1. Murid menghormati orang lain
2. Piketlah sesuai dengan jadwal
3. Murid memperhatikan guru
4. Menata baju olahraga setelah jam pelajaran olahraga
5. Berhenti main HP
6. Membuang plastik bungkus jajan ke tempat sampah
7. Setiap jam pelajaran olahraga usai, murid diberi kesempatan istirahat
8. Membersihkan lantai musholla
9. Tertib saat pelajaran bengkel / laboratorium
10. Hindari merokok
11. Hindari terlambat
12. Bersikap sopan kepada guru

Beberapa pesan disarikan menjadi satu tulisan pesan :
poin 1, 3, 4,12, disarikan : murid menghormati orang lain
poin 2, 6, 8 disarikan : murid menjaga kebersihan
poin 10 disarikan : murid menjaga keamanan
poin 5, 7, 9, 11 disarikan : murid menghargai waktu

Empat kesimpulan merupakan kesepakatan kelas.
Kesepakatan kelas : 
1. Kami menghormati orang lain
2. Kami menjaga kebersihan
3. Kami menjaga keamanan
4. Kami menghargai waktu