“Mengajarkan anak
menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah
yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
·
Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran
yang sedang Anda pelajari saat ini?
Melihat konten / isi / materi dalam suatu wadah perlu dilakukan
namun juga dibutuhkan kejelian kita melihat esensi / makna penting untuk apa
wadah berisi konten / materi tersebut diperuntukkan ? Dalam pembelajaran modul
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita diajak untuk
berempati menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang tidak hanya bisa dan mampu
membuat suatu keputusan namun juga jeli merasakan kemujaraban keputusan untuk
perubahan yang lebih baik yakni hakikat suatu keputusan untuk memuliakan murid,
melayani murid, serta keberpihakan keputusan bagi murid untuk kebertahanan
hidupnya kelak di masa depan.
·
Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut
dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
cinta Tuhan
dan segenap ciptaan – Nya, mandiri, jujur, hormat dan santun, suka menolong,
percaya diri, pantang menyerah adalah beberapa nilai yang berguna untuk
mengendalikan diri saat bertindak dalam lingkungan sehingga orang lain percaya
kepada kita..
·
Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran
dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan
Anda?
Fokus
pada setiap situasi yang kita hadapi, maka makin mudah bagi kita untuk
melakukan resiliensi terhadap berbagai hambatan dalam menciptakan suatu
keputusan yang berdampak baik bagi murid.
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap
Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Ing
Ngarso sung tuladha : di depan memberi teladan
Ing
Madya mangun karsa : di tengah memberi kemauan
Tut
Wuri Handayani : di belakang memberi dorongan
ketiga
pikiran Ki Hajar Dewantara ini menuntun kita menciptakan suatu keputusan yang
berpihak kepada kemajuan belajar murid.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh
kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
cinta
Tuhan dan segenap ciptaan – Nya, mandiri, jujur, hormat dan santun, suka
menolong, percaya diri, pantang menyerah adalah beberapa nilai kebajikan yang
berguna untuk mengendalikan diri saat bertindak dalam lingkungan sehingga orang
lain percaya kepada kita. Intuisi sebagai hasil kombinasi nilai – nilai
kebajikan pada diri kita akan menjadi kemudi kita merasakan alur masalah atau
situasi yang kita hadapi menjadi suatu lingkungan belajar yang menyambut ramah
sang murid.
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi
pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada
modul 2 sebelumnya.
Beberapa
hal yang kita rencanakan serta kita komitmenkan secara bertanggung jawab untuk
kita putuskan lakukan sesaat setelah coaching siklus pertama, biasanya masih
belum nampak keefektifannya secara langsung kecuali dalam beberapa jeda
tertentu sudah kita amati perubahan berarti / signifikan antara sebelum dan
setelah pengambilan keputusan saat coaching siklus pertama. Untuk merefleksikan
efek putusan atas tindakan tertentu, dibutuhkan coaching siklus kedua atau
siklus seterusnya sedemikian hingga berhasil diperoleh perubahan yang dituju
sesuai tahapan T ( tujuan ) dalam TIRTA coaching siklus pertama ( awal ).
Begitu juga dengan pertanyaan yang muncul pada diri atas keputusan tindakan
yang kita buat setelah coaching akan muncul beriringan dengan keefektifan
keputusan sedemikian hingga pertanyaan – pertanyaan terkait efek putusan akan
senantiasa menuntun kita menyingkronkan segala renca aksi untuk tidak berbelok
dari tujuan pada coaching siklus pertama / awal mula.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek
sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Pengelolaan
emosi dan fokus akan memudahkan guru berempati pada situasi dilema etika yang
dihadapi sehingga keputusan yang dihasilkan secara sadar / mindfull dapat
berdampak kepada murid. Kestabilan emosi saat menjadi seseorang yang mengalami
dilema etika pada suatu masalah, membuat guru memiliki daya lenting untuk
bangun dan secara sadar menelaah masalah untuk memperoleh solusi yang dapat
diterima oleh berbagai pihak.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral
atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
moral
membuat kita mampu memilah mana yang baik dan buruk. Etika menjadi suatu sistem
yang selalu hidup karena dipegang teguh oleh suatu masyarakat. Saat guru
menghadapi situasi yang secara moral dan etika diterima oleh suatu masyarakat
tertentu namun bertolak belakang oleh peraturan sekolah, maka solusinya adalah
kita kembalikan pada pertimbangan sisi kemanusiaan pendidik membawa murid demi
murid dapat berekspresi, bertumbuh, dan berkembang untuk mempersiapkan hidupnya
kelak di masyarakat ( secara luas atau lingkungan yang membesarkannya ).
Intinya adalah : paradigma suatu sekolah akan menjunjung nilai – nilai
kebajikan yang secara universal diakui oleh seseorang tanpa membeda – bedakan
suku, agama, ras, dan budaya masyarakat tercermin dari nilai – nilai yang
tersirat dalam keyakinan sekolah / kesepakatan kelas.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Keputusan
yang dibuat oleh pemimpin pembelajaran cenderung fokus pada menciptakan pengalaman
utuh berkaitan dengan proses pengajaran yang menjadi bagian dari pendidikan
untuk menghasilkan murid yang adaptif dan memiliki nilai – nilai karakter luhur
( Profil Pelajar Pancasila ). Murid dibentuk utuh oleh enam dimensi pembentuk
karakter yaitu :
1.
Beriman,
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia
2.
Mandiri
3.
Bergotong
royong
4.
Bekebhinekaan
global
5.
Bernalar
kritis
6.
Kreatif
Untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila,
rekayasa lingkungan belajar dirancang untuk mengolah cipta, rasa, karsa, dan
raga. Lingkungan belajar yang mengolah cipta akan membantu guru untuk
pembelajaran berpusat pada kebutuhan. Ruang kelas akan membantu murid memenuhi
kebutuhannya. Dalam kelas murid akan belajar untuk memahami tujuan dan manfaat
mengapa mereka belajar suatu ilmu tertentu di dalam kelas. Murid akan
menggunakan ilmunya untuk mengantarkan mereka menjadi manusia yang berguna
dalam masyarakat. Lingkungan belajar
yang mengolah rasa akan membantu guru untuk mengetahui kinerja murid dengan
menerapkan suatu konsep sederhana. Murid akan merasa dirinya kompeten dan
bernilai dengan hasil kinerja mereka. Lingkungan belajar yang mengolah karsa akan
membantu guru menghubungkan ilmu yang dipelajari dengan problematika kehidupan
sehari – hari. Murid akan bisa menyambungkan sekolah dengan kehidupan
masyarakat. Lingkungan belajar yang mengolah raga akan memayungi guru dalam
melakukan penilaian yang berorientasi pada proses dan penguasaan kompetensi.
Murid – murid yang berbeda – beda dapat mencurahkan idenya untuk karya yang
mereka mampu bisa hasilkan dengan menggunakan konsep dasar yang diajarkan oleh
guru di kelas.
Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang
sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus
dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di
lingkungan Anda?
Kesulitan
yang saya hadapi : menyamakan persepsi / sudut pandang. Di lingkungan kita,
sebagian besar kelompok masih mengakui ilusi kontrol :
1.
Ilusi guru mengontrol murid
2.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang bersalah dapat
menguatkan karakter
3.
Ilusi bahwa semua penguatan positif, efektif dan bermanfaat
4.
Ilusi bahwa orang dewasa berhak untuk memaksa
Betul sekali bahwa ini kembali ke
masalah perubahan paradigma di lingkungan. Ketika kita berhasil menemukan
benang merah dalam situasi / masalah tertentu, maka usaha kita dalam membuat
keputusan masih harus diuji oleh kusutnya benang sehingga kita sulit mengubah
pola / bentuk / paradigma awal mula budaya sekolah terbentuk.
Dan pada akhirnya,
apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran
yang memerdekakan murid-murid kita?
Akhirnya, kita ambil keputusan bahwa
pengajaran untuk memerdekakan murid hanya kita wacanakan ke sekolah. Sementara
waktu sambil mempersiapkan regulasi atau peraturan yang menaungi hal tersebut
terealisasi, kita komunikasikan hal – hal berkaitan memerdekakan murid secara
personal dengan teman / rekan sejawat sebagai kolaborator melaksanakan
pendidikan merdeka, dan mengkomunikasikan kepada pimpinan tentang informasi –
informasi penting terkait pendidikan merdeka secara sopan. Terpenting adalah
kita mulai dari diri sehingga akan kita peroleh hasil – hasil pengalaman
belajar yang meyakinkan sekolah untuk bisa mengikuti apa yang telah kita
lakukan terkait memerdekakan murid.
Bagaimana seorang
pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan
atau masa depan murid-muridnya?
Pertama, kita kenalkan faktor
pendorong atau latar belakang munculnya suatu keputusan berdasar / berpijak
pada nilai – nilai kebajikan.
Kedua, kita dampingi murid
melaksanakan pembelajaran yang memuat nilai – nilai kebajikan, misalnya dengan
memberi murid waktu / kesempatan berbagi pengetahuan, memberi waktu kepada
murid untuk mengenali emosinya, memberi waktu murid untuk bercerita, serta
melatih murid untuk menghargai ciptaan – Nya melalui Latihan bersyukur memaknai
pentingnya kehidupan / napas yang kita peroleh setiap detik.
Apakah kesimpulan
akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan
keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan : pengambilan keputusan terkait dengan kemampuan kita
mengenali emosi kita, mengelola emosi dan fokus pada tindakan kita menjadi
komunikator yang asertif dan mampu mendengarkan dengan baik, berempati dalam
situasi dilema etika, memiliki resiliensi terhadap rantai masalah dalam
lingkungan kita, untuk mengambil keputusan yang bertanggungjawab secara sadar /
mindfull guna menciptakan rasa aman dan adil bagi murid pada pembelajaran
berdiferensiasi sebagai wujud pembelajaran yang secara utuh membentuk profil
pelajar Pancasila.
No comments:
Post a Comment