Bijak dalam Dilema
Etika pada Konteks Lokal Sekolah Saya
Peristiwa / Fact :
deskripsi singkat untuk aksi nyata yang sudah dilakukan
Latar belakang
tentang situasi yang dihadapi
Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar - samar. Tujuan pendidikan
adalah menuntun (memfasilitasi / membantu) anak untuk menebalkan garis samar -
samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya (KHD,
1936. Dasar - dasar Pendidikan). Guru dan murid berkolaborasi untuk
menginisiasi / menciptakan kedalaman (rasa takjub dan kasmaran) spiritual,
intelektual, dan sosial untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai
manusia (Pengembang modul 1.1).
Sekolah sebagai tempat yang nyaman bagi murid,
berusaha memberikan keamanan secara fisik / psikis. Salah satu sikap ramah guru
kepada murid yaitu alternatif ramah anak terkait konsekuensi atas tindakan
murid yang menyimpang dari nilai “ disiplin ” / murid terlambat.
Keterangan : Pendampingan Kepala Sekolah dalam
lokakarya ketiga
Keterangan : Bapak Kepala Sekolah mendampingi
calon guru penggerak dalam lokakarya ketiga / visi misi sekolah yang berpihak
kepada murid
Keterangan : Bapak Kepala Sekolah bersama calon
guru penggerak dalam lokakarya ketiga menyusun kerangka keberpihakan sekolah
kepada murid sebagai hasil tindak lanjut wawancara calon guru penggerak kepada
sampel guru, wali murid, serta murid
Alasan mengapa melakukan aksi nyata tersebut :
Saat mengidentifikasi hasil wawancara saya kepada sampel wali murid
sebelum lokakarya ketiga pada Februari 2022, saya menghadapi dilema etika pada
satu kasus. Data yang mengejutkan saya adalah :
Pada sisi murid : murid hormat karena murid berusaha patuh untuk
melakukan konsekuensi atas tindakan murid yang salah / murid terlambat
Pada sisi guru : guru bertoleransi
kepada guru lain terkait hak jam pelajaran murid yang terlambat.
Dua nilai yang sama -
sama benar dari sisi murid dan sisi guru ini, dalam pelaksanaannya menimbulkan
efek yang kurang baik pada murid. Murid terpaksa memilih cara cepat walaupun
dia sadar akan mengalami resiko. Murid seolah dalam waktu yang singkat pada bel
masuk jam pertama belum bisa memilih alternatif damai.
Keterangan : Draft bahan musyawarah “ Alternatif
Ramah Anak ”
Keterangan : Penyerahan Draft bahan musyawarah “
Alternatif Ramah Anak ” Kepada Kepala Sekolah
Keterangan : Penyerahan Draft bahan musyawarah “
Alternatif Ramah Anak ” kepada Waka Kesiswaan, Koordinator guru BK, dan Guru BK
Hasil aksi nyata yang telah
dilakukan :
Musyawarah
dilaksanakan pada hari Senin tanggal 6 Juni 2022 pukul 13.20 wib.
Guru
BK : Guru BK mengharap semua elemen berjalan dalam menangani murid terlambat.
Waka
Kesiswaan : Penanganan murid terlambat sudah mengalami revisi / humanis mulai
dari kepala sekolah yang pertama sampai kepala sekolah yang terkini.
CGP
: Dua kondisi yang masing – masing benar pada pihak murid dan pihak guru masih
membutuhkan kajian ulang untuk memutuskan alternatif yang ramah anak.
Kepala Sekolah memutuskan :
penanganan berbeda – beda pada murid yang terlambat, karena masing – masing
murid tidak sama. Pola konsekuensi yang mengandung unsur edukatif dan kehati –
hatian dalam menangani murid terlambat agar lebih ditekankan demi mempengaruhi
psikologis murid untuk menghindari terlambat kembali.
Keterangan : Musyawarah “ Alternatif Ramah Anak
” dihadiri Kepala Sekolah, CGP, Waka
Kesiswaan, dan Guru BK
Perasaan / Feelings :
perasaan ketika atau setelah menjalankan aksi nyata
Setelah melaksanakan musyawarah yang terbilang
cukup menguras tenaga untuk mempersiapkannya, saya merasa lega dan bahagia.
Berbagai tantangan kesulitan, terutama menyambungkan masing – masing persepsi
yang berbeda – beda dari berbagai pihak penting di sekolah dapat saya
laksanakan dengan penuh kesabaran dan optimis tercipta sedikit perubahan.
Perubahan yang saya harapkan demi menempatkan murid pada posisi yang mulia di
sekolah. Kajian dan analisis secara seksama pada kasus dilema etika mengajarkan
kita untuk lebih tajam merasakan apa yang dirasakan, dipikirkan, serta dialami
murid. Dari satu kasus dilema etika ini, seolah kita belajar menjadi orang yang
bijaksana menciptakan keputusan yang bertanggung jawab serta keputusan yang
memanusiakan hubungan antara murid dengan seluruh elemen dalam sekolah.
Pembelajaran /
Findings : pembelajaran yang didapat dari keseluruhan aksi (baik dari kegagalan
maupun keberhasilan)
Pada saat saya gagal membangun komunikasi di
tahap awal yakni dikarenakan satu redaksi / satu tulisan saya pada berkas draft
musyawarah alternatif ramah anak, yang menyinggung perasaan Waka Kesiswaan
serta Guru BK, saya memperoleh pelajaran bahwa dalam membangun komunikasi
sebisa mungkin kita menggunakan bahasa tulisan dan bahasa lisan yang menjaga
perasaan orang lain sehingga tidak mengalami hambatan di koordinasi tahap
selanjutnya. Sedangkan pada saat saya berhasil mempertemukan secara tatap muka
dan menyambungkan berbagai persepsi dari berbagai pihak, saya memperoleh
pelajaran bahwa untuk menciptakan suatu keputusan secara etis dibutuhkan
kemampuan mengendalikan diri dan empati sehingga musyawarah dilakukan secara
mindfull untuk menciptakan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penerapan ke depan /
Future : rencana perbaikan untuk pelaksanaan mendatang
Ke depan saya akan mencoba berkomunikasi secara
arif. Saya akan mengembangkan diri untuk memperdalam keterampilan sosial
khususnya berkomunikasi dengan bahasa dan redaksi kata yang menghormati orang
lain. Hal ini akan saya lakukan dengan mencoba mencari padanan kata, frase,
serta kata ungkapan pada komunikasi lisan, komunikasi tulisan, serta komunikasi
non verbal yang menjunjung toleransi. Berikutnya saya juga akan belajar membaca
kondisi sekitar agar saya mengetahui bagaimana memilih waktu yang tepat untuk
memulai komunikasi atau menghentikan komunikasi bahkan memulai aksi nyata serta
merefleksikan berbagai tindakan aksi nyata. Semua ini demi bersikap bijaksana
dalam setiap langkah penting menghasilkan keputusan secara etis dan keputusan
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Diana
Kholida Mr – CGP Angkatan 4 – SMKN 3 Bondowoso – Jawa Timur
No comments:
Post a Comment